Belajar Memahami Falsafah Mendaki Gunung Sebagai Pelajaran Untuk Hidup

falsafah-mendaki-gunungMendaki gunung bukan sekedar hobi. Di dalamnya terkandung makna. Bisa dilihat dari pengertiannya, serta falsafah yang diambil sebagai pelajaran. Pastinya, kehidupan seseorang kurang lebih seperti kehidupan para pendaki.

Trend naik gunung memang tidak bisa dipisahkan saat ini. Kebanyakan orang mulai tertarik untuk melakukannya. Persiapan harus dilakukan. Dimulai dari rencana, kekuatan fisik maupun mental harus ada.

Jika tidak, jangan sekali-kali melakukan pendakian. Misalnya mendaki hanya untuk gaya-gayaan. Foto sana sini hanya untuk pamer di media sosial seperti kebanyakan.

Memang tidak ada salahnya melakukan hal tersebut. Itu adalah bentuk ungkapan kebahagiaan. Tapi jika tidak memperhatikan keselamatan, ada baiknya urungkan niat tersebut.

Pengertian Mendaki Gunung

Sebelum mengambil pelajaran dari pendakian di gunung, ada baiknya jika rekan-rekan tahu terlebih dahulu tentang pengertian mendaki gunung.

Mendaki sebuah gunung adalah kegiatan penuh petualangan. Kecerdasan serta keterampilan sangat dibutuhkan. Selain itu, kekuatan dan daya juang juga harus dimiliki seorang pendaki.

Banyak sekali tantangan yang akan dihadapi. Tantangan semisal bahaya dalam perjalanan selalu ada. Pasalnya, kondisi alam kadang tidak bersahabat.

Menariknya, tantangan dan bahaya menjadi daya tarik tersendiri bagi para pendaki. Setidaknya, tantangan ini menjadi bahan ujian atas kemampuan diri dalam berkenalan dengan alam.

Pendaki dikatakan berhasil jika mampu mengatasi tantangan. Ketakutan dihilangkan untuk memenangkan tujuan awal. Yaitu bisa menaklukkan puncak gunung tersebut.

Filosofi Naik Gunung Yang Bisa Diambil Pelajaran

Hobi ini berupa menguji kemampuan diri sendiri. Setiap pendaki berusaha untuk mengatasi rasa kuatir dan ketakutannya. Tujuannya hanya satu, mencoba untuk keluar dari ketakukan. Dan hasilnya adalah menang dan tropinya adalah puncak yang diharapkan.

Dari pendakian, rekan-rekan bisa mengambil pelajaran dari mendaki gunung. Pelajaran ini bisa diambil langsung dari filosofinya. Filosofinya perlu dipahami agar banyak pendaki bisa mendapatkan makna terdalam dari petualangan di alam bebas tersebut.

Filosofi mendaki gunung yang pertama adalah penetapan tujuan. Para pendaki berhak menentukan apakah ingin sampai di puncak atau tidak. Ini sama dengan kehidupan, apakah seseorang mau meraih cita-citanya atau tidak.

Tentu dalam mencapai tujuan, keterampilan dan kemampuan diri harus menjadi bekal utamanya. Ini bisa mengukur kemampuan seseorang. Jika belum bisa, belajarlah sebagai bekal utama untuk meraih yang dicita-citakan.

Selain itu, pelajaran lainnya adalah rencana. Rencana ini akan menentukan keberhasilan. Kalau mendaki, rencananya berhubungan dengan perlengkapan, kekuatan fisik dan lain-lain untuk mencapai target.

Baca juga: Film Tentang Pendakian Yang Diambil Dari Kisah Nyata

Kemudian falsafah mendaki gunung lainnya adalah menemukan rekan seperjuangan lebih baik ketimbang sendirian. Anda bisa menaklukkan sendirian, tetapi adanya rekan akan jauh lebih baik. Pasalnya, beban yang dipikul akan lebih kecil.

Pelajaran lainnya adalah menaklukkan diri sendiri. Ya, Anda sebenarnya bukan menaklukkan gunung, tetapi mencoba untuk mengalahkan rasa takut yang ada di dalam fikiran. Ini seperti jika Anda ragu-ragu terhadap sesuatu, tetapi Anda berani untuk mengambil keputusan.

Selain itu, Anda juga akan belajar tentang pengorbanan. Tidak ada jalan yang mudah untuk mencapai tujuan. Perjuangan sekaligus pengorbanan selalu ada. Entah itu pengorbanan waktu, fisik maupun fikiran.

Semuanya harus menyatu. Itu yang harusnya dipahami jika ingin mencapai puncak/cita-cita dalam hidup. Anda tidak boleh takut dengan sesuatu jika Anda benar, punya rencana matang dan didukung dengan bekalan keterampilan yang memadai.

Intinya, pelajaran dari mendaki gunung adalah bagaimana cara Anda mengolah kemampuan diri, mengatasi tantangan, berjuang untuk mencapai tujuan utama.

Sending
User Review
0 (0 votes)