Larangan Di Gunung Muria Bagi Warga Dan Pengunjung

larangan di gunung muria

Warga setempat tentunya tidak asing dengan larangan di gunung Muria. Keyakinan ini seakan mendarah daging. Apalagi disertai dengan bukti atas pelanggaran tersebut.

Menghormati kepercayaan warga itu penting. Selain menjaga kehormatan, Anda juga bisa terhindar dari masalah. Terutama menyangkut dengan pantangan ketika berada di suatu lokasi.

Salah satunya adalah mitos yang muncul di lereng gunung Muria. Tepatnya di desa Colo yang merupakan tempat paling sering dikunjungi oleh seseorang. Karena di sini, Anda juga bisa ziarah atau menikmati alam. Contohnya mendirikan tenda di bukit puteran Kudus.

Di desa ini, warga setempat maupun pengunjung diharapkan tidak melanggar pantangan. Setidaknya, ini dilakukan untuk meminimalkan kondisi yang tidak diinginkan. Nah, seperti apa larangan di gunung Muria tersebut?

Larangan Bagi Warga Setempat

Gunung Muria sendiri menjadi tempat yang paling banyak dikunjungi. Baik untuk ziarah atau sekedar menikmati pemandangan alam. Contohnya pendakian ke puncak 29 yang sangat populer bagi warga sekitar Kudus.

Bagi warga sekitar, tentunya pantangan ini sudah menjadi hal yang paling ditakuti. Betapa tidak, pelanggaran kecil saja bisa berujung pada bencana. Meskipun warganya melakukannya tanpa sengaja.

Larangan bagi warga setempat ialah menjual sate. Baik itu sate kambing, sapi, kerbau dan lain sebagainya.

Anda bisa membuktikan sendiri ketika berada di Colo. Anda tentunya tidak akan mendapati penjual sate di area manapun. Karena ini merupakan salah satu pantangan yang tidak boleh dilakukan oleh warga.

Kuncinya adalah menjual. Ketika warga hanya mengonsumsi secara pribadi, tampaknya tidak mengapa. Hanya saja, warga tetap mengantisipasinya lantaran menghormati Sunan Muria.

Menurut beberapa sumber, larangan ini disebabkan oleh Sunan Muria yang notabenenya tidak menyukai sate. Mengenai asal usulnya, tidak ada yang mengetahuinya. Hingga saat ini, sate tidak pernah diperjual belikan di sana.

Pernah muncul suatu kejadian yang tampaknya bisa dijadikan hipotesis ataupun bukti. Yakni, ada warga setempat yang nekat untuk berjualan sate. Tepatnya ketika mengadakan perayaan proklamasi.

Niatan warga ialah merayakan dengan menyelenggarakan ketoprak. Pada saat itu, cuaca sebenarnya sedang kemarau.

Tetapi tidak menunggu waktu lama, hujan deras dan angin kencang tiba-tiba muncul. Praktis, ini membuat perayaan gagal dilakukan. Dari sinilah warga tidak berani mengulangi pantangan tersebut.

Lalu, bagaimana dengan sate kojek? Menurut warga setempat, ini tidaklah bagian dari sate yang disakralkan. Kenyataannya, ini merupakan jenis jajanan yang berbeda dari sate. Jadi, tidak masalah jika warga menjualnya.

Pantangan Bagi Pengunjung

Bagi pengunjung, ada juga pantangan yang memang sudah dikenal luas. Hampir setiap pengunjung tidak berani melanggarnya. Karena efeknya akan menimpa dirinya secara langsung.

Larangan utama bagi pengunjung ialah membawa calon pasangan (pacaran) di kawasan tersebut. Jika melanggar, kebanyakan pasangan muda mudi ini akan putus di tengah jalan.

Ini tampaknya menyiratkan bahwa tempat ini memang bukan untuk dijadikan area bermesraan yang belum halal. Karena gunung Muria termasuk tempat di mana ditujukan untuk ziarah, mengambil berkah dari sunan Muria.

Membawa pasangan belum menikah bukanlah bentuk penghormatan. Makanya, kebanyakan orang akan ditinggal oleh pasangannya.

Berbeda jika seorang pengunjung datang dan bertemu lawan jenisnya di sini. Kebanyakan, perkenalan sederhana ini bisa berujung pada pernikahan.

Akhirnya, Anda sendiri yang perlu bijaksana dalam menyikapinya. Semuanya sudah kehendak Tuhan. Tetapi menghormati sesuatu itu sangat penting. Salah satunya ialah menjauhi apa yang menjadi larangan di gunung Muria ini.

Sending
User Review
0 (0 votes)