Puncak Trikora, Sejarah & Fakta Mengenai Pendaki Wanita

puncak trikora

Puncak trikora disebut juga dengan mount Wilhemina atau wilhemina peak. Ini merupakan puncak tertinggi kedua yang ada di Papua Barat. Tentunya setelah Puncak Jayawijaya Papua. Ketinggiannya sekitar 4750 mdpl dengan ciri khas medannya yang ekstrim.

Menaklukkan puncaknya menjadi impian sebagian besar dari para pendaki professional. Namun begitu, tidaklah mudah untuk bisa melakukannya.

Sudah banyak rombongan pendaki menjajal keekstriman medan menuju puncak tersebut. Nyatanya, tidak semua rombongan berhasil finish di atas.

Baru-baru ini, ada pendaki cantik asal Indonesia yang menapakkan kakinya di puncak tersebut. Tepatnya di tahun 2018 lalu dengan mengusung ekspedisi kopi nusantara.

Pendaki ini berhasil ke puncaknya, mampu mengibarkan bendera sekaligus membantu dalam peletakan plakat di atasnya. Diapun mencatatkan namanya sebagai pendaki perempuan pertama yang berhasil sampai ke Puncak Trikora Papua.

Siapakah dia? Seperti apa kisahnya? Mari simak ulasannya berikut gambaran dari Trikora Papua di bawah ini.

Sejarah Puncak Trikora

Trikora sendiri kependekan dari Tri Komando Rakyat. Sebuah komando yang dimandatkan oleh presiden RI pertama. Tepatnya IR Soekarno di 19 Desember 1961.

Puncaknya termasuk sebagai salah satu seven summit dunia. Ciri khasnya adalah treknya sangat luar biasa sulit. Oleh karenanya, tidak sembarang pendaki mampu melakukannya.

Dahulu, puncaknya dianggap menjadi yang tertinggi kedua. Namun setelah dilakukan pengukuran kembali dengan Shuttle Radar Topography Mission, puncak tersebut kalah tinggi dari puncak Mandala. Ada jarak sekitar 10 meteran.

Puncak ini juga sama-sama pernah diselimuti oleh salju tebal. Sampai pada tahun 1962, salju menghilang secara perlahan. Penyebabnya adalah pemanasan global.

Puncak Wilhelmina (Trikora) ini tidak seperti puncak gunung lainnya. Bila biasanya puncak gunung lebih kerucut, maka puncak ini lebih datar. Bentuknya memanjang dan bagian atasnya diselimuti oleh salju putih.

Gunung ini memiliki banyak rimba. Diantaranya adalah rimba gunung (Ericaceus), rimba montane, dipterokarp bukit serta dipterokarp atas.

Orang pertama yang menemukan dan menjelalah kawasan ini adalah penjelajah Belanda. Namanya adalah H.A Lorentz. Sementara orang pertama dengan kesuksesan melakukan pendakian adalah Herderschee, Versteeg dan Hubrect di tahun 1913.

Baru setelah itu, muncullah beberapa pendaki professional dengan tekad tinggi ingin menaklukkan gunung tersebut. Bukan hanya pendaki luar saja, tapi pendaki lokal yang tergabung dalam tim eskpedisi UI (contohnya).

Untuk melakukan pendakian, dibutuhkan fisik mumpuni. Selain itu, teknik tepat, sesuai dengan ketinggian gunung juga sangat diperlukan.

Bila Anda ingin melakukan pendakian, Anda bisa mencobanya. Tapi kuasai dulu teknik Himalayan. Teknik ini mengedepankan pembagian kelompok. Setiap orang punya peran sama pentingnya. Nah, untuk selengkapnya bisa dilihat pada ulasan teknik pendakian.

Wanita Penakluk Puncak Trikora Papua

Puncak Trikora bukanlah tempat bagi pemula. Memiliki tingkat kesulitan luar biasa. Fakta menunjukkan bahwa hanya beberapa orang pernah menaklukkannya.

Menariknya, ini bisa dihitung dengan jari. Ini sekaligus menandai jika medannya memang sangat sulit untuk diatasi.

Meskipun begitu, niat dan tekad akan selalu menguatkan. Contohnya seperti Mila Ayu Hariyanti. Perempuan tangguh asal Indonesia. Menjajal kemampuannya untuk bertahan sampai berhasil menuju impiannya.

Diketahui bahwa Mila merupakan pendaki yang memegang rekor MURI sebagai pendaki tercepat dalam menggapai 7 puncak tertinggi Indonesia. Pendaki cantik ini sukses menjalankan misi seperti pengibaran bendara merah putih di pucuk gunung tertinggi.

Sebelum menaklukkan Trikora, dirinya juga lebih dulu menaklukkan Puncak Jaya Wijaya Papua. Fisik mumpuni serta didukung dengan peralatan serba lengkap menjadi andalan sang pendaki. Tentunya tanpa mengesampingkan pemahaman akan jalur.

Mila sapaan akrabnya datang ke Trikora untuk menjalankan ekspedisi Kopi Nusantara sekaligus Ekpedisi pengibaran bendara Merah Putih di bulan Agustus 2018 silam. Ekspedisinya berhasil, ditandai dengan pengibaran bendera dan peletakan plakat Kopi Nusantara di puncak Trikora.

Pencapaian ini juga menandai bahwa dirinya menjadi salah satu pendaki wanita pertama yang menapakkan kakinya di puncak tersebut. Dan ini menjadi kebanggaan bagi bumi pertiwi. Secara, tidak banyak pendaki yang mampu melakukannya.

Bahkan, sejumlah pendaki priapun sering gagal untuk menggapai puncaknya. Karena memang medannya lebih sulit ketimbang dari Puncak Jaya Wijaya Papua.

Persiapan Mila Ayu Hariyanti Sebelum Mendaki Trikora

Untuk mendaki Trikora, menguatkan niat dan tekad wajib ada. Persiapan juga wajib dilakukan agar berhasil. Setidaknya, inilah yang dilakukan oleh Mila sang penakluk Trikora asal Indonesia.

Diantara persiapannya adalah peralatan, alat komunikasi dengan pendaki yang pernah ke Trikora, serta mempersiapkan fisik dan mentalnya. Kesemuanya dipersiapkan sehingga Mila bisa sampai ke puncak dengan selamat.

Sementara untuk persiapan fisik, Mila mempersiapkannya dengan berbagai kegiatan mendaki selama dua bulan sebelumnya. Mila tercatat melakukan pendakian ke Gunung Argopuro, Gunung Gede dan Gunung Prau.

Pendakian ke sejumlah gunung ini dilakukan untuk memeriksa kemampuan fisiknya. Terlebih untuk melatih pernafasan serta melatih adaptasi dengan cuaca tak menentu.

Dan terbukti, latihan kali ini sangat berguna untuk menaiki gunung lebih besar dengan cuaca ekstrim. Setidaknya, cara ini dipandang sebagai solusi terbaik untuk melatih fisik seorang pendaki.

Anda yang juga ingin melakukan pendakian ke gunung tertinggi, tidak salah bila meniru tentang berbagai persiapan dari Mila. Karena cara tersebut terbukti ampuh untuk melatih daya tahan tubuh, fisik dan mentalnya.

Perjalanan Mila Menuju Puncak Trikora Jayawijaya

Perjalanan yang tak singkat dan sulit tentu saja akan menghabiskan energi. Tidak hanya itu saja, mental dari pendaki juga harus kuat. Jika tidak, sudah pasti akan mengalami kegagalan sebelum sampai di puncaknya.

Untuk menggapai puncak terekstrim nomer 1 di Indonesia, perjalanan darat menggunakan kendaraan roda empat dimanfaatkan. Perjalanan ini dilakukan dari Wamena menuju Danau Habema.

Sekedar tahu saja, danua Habema sendiri merupakan danau tertinggi di Indonesia. Letaknya berada di ketinggian 3.200 meteran. Untuk sampai di danau ini, perjalanan memakan waktu sekitar 2 jam bila menggunakan kendaraan roda empat.

Sesampainya di danau Habema, Pendakian dimulai dengan menyusuri rawa-rawa. Rawa-rawa ini cukup dalam, bila diinjak akan ambles sampai ke lutut. Dari perjalanan panjang, ditemukanlah sebuah tempat camp yang bisa dijadikan tempat istirahat.

Perjalanan bisa dilanjutkan sampai melewati beberapa tempat camp. Untuk rutenya tidak begitu jelas. Baru setelah itu mulai melakukan pendakian ke bagian puncak.

Sebelum sampai di puncaknya, seorang pendaki diharuskan untuk melewati tebing cukup curam. Gerakan menyamping melalui tebing terjal wajib ditaklukkan.

Pendaki juga diharuskan melewati ridge atau igir-igir yang cukup curam. Panjang igir-igir ini sekitar 5-6 km.

Perlu dipahami, cuaca di sekitar kadang tidak mendukung. Cuacanya bisa berubah setiap saat, apalagi sampai di atas ketinggian 4000 mdpl.

Setelah medan ini dilalui, barulah pendaki akan sampai ke puncak trikora Papua Barat.

Beberapa Tempat Ngecamp di Jalur Trikora

Puncak Trikora memang sangat menantang kekuatan dan kemahiran seorang pendaki. Pendaki pemula sangat tidak direkomendasikan untuk menjajalnya. Karena memang gunung ini tidak ramah untuk pemula.

Perjalanan panjang akan dialami oleh setiap pendaki manakala ingin menaklukkan Trikora. Istirahat sejenak perlu dilakukan untuk sekedar mengisi perut dan lain sebagainya.

Sebelum sampai di puncak, para pendaki bisa mendirikan tenda di beberapa tempat yang akan dilalui. Salah satunya adalah di Camp 1, tempatnya berada di ketinggian 3.200 mdpl.

Selain itu, pendaki juga bisa mendirikan tenda di Guha Somali atau disebut juga dengan Camp Rock Shelter. Camp kedua ini berada pada ketinggian 3.800 mdpl.

Kemudian tempat camp terakhir sebelum menggapai puncak Trikora, pendaki bisa istirahat sejenak di Camp Lembah Gantung. Camp ini berada di ketinggian 4.200 mdpl. Setelah itu, pendaki bisa bersiap-siap untuk melakukan pendakian sebenarnya ke puncaknya.

Alasan Sulitnya Menaklukkan Puncak Trikora Salju

Disebutkan bahwa medan yang dilalui seorang pendaki memiliki tingkat kesulitan tinggi. Bahkan ini diamini sebagai salah satu medan terberat dan tersulit yang ada di Indonesia. Bisa juga tersulit di Asia.

Selain medan yang sulit, ada beberapa hal yang menyebabkan pendaki gagal ketika melakukan pendakian ke salah satu puncak tertinggi Papua ini. Diantaranya adalah sebagai berikut.

  • Fisik kurang mendukung
  • Peralatan mendaki tidak memadai
  • Tidak adanya fixed rope pada jalur menuju Trikora
  • Minimnya pengetahuan akan jalur menuju Trikora yang disebabkan belum jelasnya rute menuju area tersebut
  • Medan yang lebih sulit dengan tebing yang curam

Itulah sekilas informasi mengenai puncak trikora yang bisa disampaikan di sini. Untuk rute awalnya bisa dimulai dari Wamena di lembah Baliem. Selebihnya, Anda bisa mencari informasinya di beberapa sumber yang lebih lengkap. Salam semangat.

Sending
User Review
0 (0 votes)